Kawasan Konservasi Mangrove Bekantan kota Tarakan

Mau lihat Bekantan langsung di habitatnya tanpa harus menyusuri hutan belantara Kalimantan? Yukkk mampir ke Kawasan Konservasi Mangrove dan Bekantan yang berada tidak jauh dari Tarakan Juwata International Airport (TRK). Tepatnya berada di Jalan Gajah Mada, Kota Tarakan, Kalimantan Utara.

Disini kita dapat melihat langsung satwa monyet berhidung panjang atau Bekantan, yang merupakan spesies primata tergolong langka bernama ilmiah Nasalis larvatus, yang juga menjadi icon pariwisata Kota Tarakan.

(photo from Google)

Bekantan adalah satwa pemalu yang kerap disebut juga Monyet Belanda, sangat terkenal di Jakarta sebagai maskotnya Dunia Fantasi (Dufan).

Kawasan ini merupakan upaya Pemerintah Kota Tarakan demi melestarikan Bekantan. Pertama kali dibangun, luasnya hanya sekitar 3 hektar, namun kini bertambah menjadi 22 hektar dengan jumlah Bekantan sekitar 30-an ekor. Pengelolaan taman ini berada di bawah koordinasi Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kota Tarakan.

Tiket masuk Rp. 5.000,-. Jam operasional 09.00 s/d 17.00 WITA.

Suasana teduh, nyaman, dan asri langsung terasa ketika memasuki kawasan hutan mangrove ini. Menyusuri jalan panjang yang terbuat dari kayu sambil sesekali menengok ke atas demi mencari si Bekantan yang berada di pohon.

Tetaplah berhati-hati saat berjalan disini karena beberapa bagian jalan kayu ada yang sudah rapuh, rusak dan juga berlubang.

Photo : Dion

Sangat disayangkan saat kami datang sudah terlalu sore, jadi tidak banyak Bekantan yang terlihat. Info dari sang Petugas, Bekantan berbulu coklat kemerahan ini suka makan pucuk daun bakau yang tumbuh subur di area hutan mangrove. Dan waktu yang tepat untuk melihat Bekantan adalah di pagi hari saat “jam makan” hewan ini.

Disini terdapat dua kelompok Bekantan, yang jumlah setiap kelompoknya sekitar belasan ekor. Kelompok pertama dipimpin oleh Jhon yang memiliki tubuh paling besar dibanding yang lainnya. Sedangkan kelompok kedua diketuai oleh Michael.

Di kawasan ini bukan hanya Bekantan dan hutan mangrove yang bisa kita lihat, ada juga kepiting payau, salamander, tupai, burung, dan beberapa jenis ikan yang hidup bebas. Dan saat air pasang, akan terlihat juga ular laut berenang, beserta biota lainnya.

Menurut hukum di Indonesia, hewan Bekantan ini dilindungi oleh Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 pasal 21 ayat 2 yang menyatakan :

(2) Setiap orang dilarang untuk :

  1. menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup;
  2. menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan mati;
  3. mengeluarkan satwa yang dilindungi dari suatu tempat di Indonesia ke tempat lain di dalam atau di luar Indonesia;
  4. memperniagakan, menyimpan atau memiliki kulit, tubuh, atau bagian-bagian lain satwa yang dilindungi atau barang-barang yang dibuat dari bagian-bagian tersebut atau mengeluarkannya dari suatu tempat di Indonesia ke tempat lain di dalam atau di luar Indonesia;
  5. mengambil, merusak, memusnahkan, memperniagakan, menyimpan atau memiliki telur dan atau sarang satwa yang dillindungi.

Barang siapa dengan sengaja melakukan pelanggaran terhadap ketentuan pasal 21 ayat 2 tersebut dapat dipidana dengan ancaman kurungan paling lama 5 tahun dan denda paling banyak Rp100 juta.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *