Pengalaman langka lihat penyu menetas di Pulau Sangalaki

Melihat penyu bertelur atau melepas penyu pasti sudah mainstream, tapi melihat telur penyu menetas ini baru kejadian langka !!

Kami amat sangat beruntung bisa menyaksikannya LIVE (tanpa streaming hahahaha) di Pulau Sangalaki.

Menuju Pulau Sangalaki bisa ditempuh dengan speed boat selama kurang lebih 45 menit dari Maratua Paradise Resort tempat kami menginap.

Disini garis pantainya sangat landai, sehingga nyaman untuk bermain air atau snorkeling. Sebelum kapal berlabuh kita bisa melihat jernihnya air dan karang-karang yang masih alami.

Pulau Sangalaki menjadi salah satu pulau andalan di kepulauan Derawan, banyak turis lokal dan mancanegara datang kesini karena Pulau ini terkenal sebagai lokasi konservasi penyu.

Menuju area penangkaran, terdapat beberapa papan edukasi yang memberikan informasi kepada pengunjung mengenai segala hal tentang penyu.

sangalaki penyu

Telur Penyu Hijau (Chelonia mydas) yang kami lihat menetas ini berumur tepat 2 bulan terhitung sejak telur-telur tersebut ditimbun di dalam lubang pasir. Proses penetasannya terbilang cepat, setelah 1 anak penyu (disebut Tukik) mulai keluar dari dalam pasir segera disusul oleh puluhan penyu lain yang menjadi “saudara-saudara-nya”.

Tukik yang sudah menetas kemudian ditampung di dalam ember besar untuk dipindahkan ke kolam air yang menjadi tempat penampungan sementara sebelum mereka dilepaskan ke laut.

Para pengunjung diperbolehkan memegang dan bermain dengan anak-anak penyu yang ada di kolam penangkaran. Yang harus diingat agar berhati-hati dan tidak memperlakukan penyu dengan kasar karena mereka yang masih sangat kecil dan ringkih.

Perlu diketahui, Predator alami seperti biawak yang hidup di Pulau Sangalaki menjadi ancaman dalam proses penetasan telur penyu

Beberapa Photo dari : Dion
Guide : Lukman (IG : @Lukmantebe)
Tour arrangement : Jadi Jalan

 

WHAT YOU NEED TO KNOW:

Berdasarkan peraturan pemerintah melalui surat edaran  yang dikeluarkan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia

Nomor : 526/MEN-KP/VIII/2015
TENTANG : PELAKSANAAN PERLINDUNGAN PENYU, TELUR, BAGIAN TUBUH, DAN/ATAU
PRODUK TURUNANNYA

Penyu merupakan salah satu jenis ikan yang dilindungi baik berdasarkan
ketentuan hukum nasional maupun ketentuan internasional, karena keberadaannya telah
terancam punah, yang diakibatkan oleh faktor alam maupun aktivitas manusia.

Di Indonesia terdapat 6 (enam) jenis penyu yang dilindungi yaitu:
1. Penyu Hijau (Chelonia mydas);
2. Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata);
3. Penyu Tempayan (Caretta caretta);
4. Penyu Belimbing (Dermochelys coriacea);
5. Penyu Ridel/Abu-abu (Lepidochelys olivacea); dan
6. Penyu Pipih (Natator depressa).

Sebagaimana tercantum dalam Lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari
Surat Edaran Menteri ini.

Peraturan perundang-undangan yang terkait dengan perlindungan penyu serta
habitatnya sebagai berikut:
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam
Hayati dan Ekosistemnya;

  1. Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan sebagaimana telah
    diubah dengan Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009 tentang Perubahan Atas
    Undang Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan;
  2. Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan
    dan Satwa;
  3. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 1999 tentang Pemanfaatan Jenis Tumbuhan
    dan Satwa;
  4. Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2007 tentang Konservasi Sumber Daya
    lkan; dan
  5. Keputusan Presiden Nomor 43 Tahun 1978 tentang Pengesahan Convention on
    International Trade in Endangered Species (CITES) of Wild Fauna and Flora.
    Memperhatikan kondisi saat ini di beberapa daerah masih banyak ditemukan
    pemanfaatan dan perdagangan penyu, telur, bagian tubuh, dan/atau produk turunannya,
    sehingga mengancam keberlanjutan dan kelestarian penyu.

Untuk itu kami meminta perhatian Saudara agar mengambil langkah-langkah:

  1. Melakukan sosialisasi peraturan perundang-undangan yang terkait, disertai
    pembinaan dalam rangka penyadaran masyarakat guna melindungi penyu dari
    kepunahan;
  2. Melakukan koordinasi dalam rangka pencegahan, pengawasan dan penegakan
    hukum untuk pelaksanaan perlindungan penyu, telur, bagian tubuh, dan/atau produk
    turunannya;
  3. Melakukan perlindungan habitat peneluran penyu; dan
  4. Melakukan monitoring terhadap pelaksanaan program perlindungan penyu, telur,
    bagian tubuh, dan/atau produk turunannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *