Red Light District Amsterdam

Berbeda dengan kawasan lain di Amsterdam, lampu-lampu di Red Light District dominan merah. Saat menuju kawasan Red Light District ini, aroma daun ganja yang sangat khas tercium tajam menusuk hidung. Saya mulai menyusuri dua lajur yang dipisah kanal. Selain di lajur utama, terdapat beberapa gang yang lebih kecil dengan pemandangan hampir sama, yaitu banyaknya etalase wanita.

Kawasan ini dikenal sebagai Red Light District Amsterdam, lokasi prostitusi legal paling terkenal, yang sudah ada di awal abad ke-19. Like it or Not, daerah ini adalah salah satu daya tarik Amsterdam yang tidak boleh dilewatkan buat para travellers.

Peta kawasan Red Light District

Red Light District juga dipenuhi dengan hiburan-hiburan dewasa, seperti kafe-kafe yang menyediakan pertunjukan untuk pria dewasa seperti striptease, pole dance, hingga sex show.

Di area ini memang ada aturan tak boleh mengambil gambar. Untungnya saat itu sedang hujan, jadi securitynya tidak terlalu ketat.

Menurut info, Red Light District merupakan salah satu penyumbang dana terbesar kota Amsterdam dari penghasilan pajak para pekerja sex dan tempat hiburan di area tersebut.

Daerah ini disebut oleh orang Belanda sebagai Rossebuurt (Kawasan Merah). Namun, Red Light District bukan hanya sekadar prostitusi dan hiburan saja, melainkan salah satu kawasan terindah di Amsterdam dengan kanal yang membelah kawasan tersebut menjadi dua bagian, bangunan-bangunan tua dari abad ke-14, dan jalanan klasik bebas kendaraan bermotor yang dirawat dengan baik.

What Happens in Amsterdam Stays in Amsterdam”  kalimat yang tepat untuk tulisan penutup travel journal setiap orang setelah mengunjungi Red Light District di Amsterdam ini.

See Also :

Kimpton DeWitt Hotel, Amsterdam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *